Tanpa sadar seakan ada yang menuntunnya, seorang cewek pergi ke Bleu Street, tempat orang menghilang secara misterius. Ada seorang pemuda yang menunggu dalam diam, keheningan mewarnai kejadian itu.
“Kuro...” tiba-tiba kata itu terlontar dari mulut cewek itu. Pemuda itu menoleh. Saat melihat cewek itu matanya seakan terhipnotis. “Kuro..”
“Amy..terima kasih,” kata Kuro. “Amy. Cepatlah pergi.”
Amy menoleh. Di belakangnya...seorang vampire mengintai. Angin bertiup. “Kuro” gumam Amy. “Kuro!” Tiba-tiba Kuro menghilang. Hanya Amy dan sang vampire sekarang.
“Hime Amy,” kata Sang Vampire. “Keiron.”
“Na—namamu Keiron?”
“Yaaa?” kata Keiron. “dimana Kuro-mu?”
“Amy tidak tahu aku dimana, Keiron,” jawab Kuro yang ada di belakang Keiron. “Amy. Pergilah, cepat.”
“Tapi—tapi kau?”
“Aku akan baik-baik saja, Amy.” Kata Kuro sambil mengeluarkan pedang panjangnya. “Keiron...mana Eo?”
“Bukan urusanmu!” jawab Keiron ketus. “Mana Hime?”
“Maksudmu Alie atau Corin?”
“Bukan. Amy.” jawab Keiron. Keiron mengeluarkan sebuah belati. Di belati itu ada sebuah permata warna merah. "Blumetter, belati Api."
"Sial," keluh Kuro. Pedangnya dilapisi es. Tanpa sadar Kuro mengeluarkan salah satu kekuatannya, es. "Jangan ganggu Amy. Atau kubunuh kau! Ambil Alie atau Corin, jangan Amy!"
"Peduli apa." jawab Keiron ketus. "bye-bye, Kuro." Diapun menghilang.
Sabtu, 08 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar